Rainbow for Peace

“The Rainbow is You”

Siapkah kamu mengambil bagian untuk menunjukkan kepada diri dan orang lain bahwa kamu adalah bagian dari kebhinnekaan bangsa? Beranikah kamu berdiri sendiri meski berbeda? Gerakan Rainbow for Peace adalah suatu inisiatif tentang kesadaran kebhinnekaan, tentang spirit bahwa kamu ada dalam lingkaran pelangi keberagaman itu sendiri.

Mari bergabung dalam gerakan Pelangi Manusia: Rainbow for Peace: “The Rainbow is You”, sebuah inisiatif gerakan baru dan pertama di Indonesia yang dipelopori oleh pemuda Komunitas Peace Generation Yogyakarta.

Latar Belakang

Amanat untuk menciptakan perdamaian dan menghargai kebhinekaan termaktub sangat jelas dalam UUD 1945 dan Pancasila. Semangat menghargai perbedaan dan bermusyawarah merupakan salah satu manifestasi dari para pendiri bangsa terdahulu. Sayangnya, cita-cita itu agaknya kini dimaknai dengan sempit oleh masyarakat. Pada sebagian orang atau kelompok tertentu, konflik natural yang muncul dari perbedaan identitas dan pemikiran kini kerap memicu penyelesaian konflik yang berdarah-darah dan penuh kekerasan. Keragaman tak lagi dipandang sebagai suatu anugrah, konflik tidak diselesaikan dengan dialog. Yang lebih menyedihkan, tidak sedikit kaum muda yang turut memilih jalan kekerasan ini.

(See More Click Here)

Tujuan

  1. Merayakan Hari Perdamaian Internasional (setiap 21 September) bersama masyarakat Yogyakarta.
  2. Menjadi ajang berkumpulnya komunitas-komunitas pemuda di Yogyakarta untuk saling mengenal dan membangun jaringan dalam semangat kebinekaan dan perdamaian.
  3. Menjadi pengingat bagi masyarakat Yogyakarta, khususnya pemuda, bahwa setiap individu adalah bagian dari kebhinekaan.
  4. Menjadi pengingat bagi masyarakat Yogyakarta untuk menciptakan perdamaian dan menolak segala bentuk kekerasan.

Tempat & Waktu Pelaksanaan

Hari, tanggal : Jum’at, 21 September 2012

Waktu : 14.00-17.30 WIB

Tempat : Nol Kilometer Yogyakarta

Bentuk & Komposisi Acara

Acara berbentuk Flash Mob dan pertunjukkan seni. 150 pemuda akan membentuk lingkaran pelangi di tengah-tengah perempatan nol kilometer dan melakukan flash mob. Sebuah bendera merah putih akan dikibarkan di tengah lingkaran oleh 5 pemuda: waria, Bali, perempuan Muslim, difabel, dan Papua. 20 pemuda akan menjadi pembawa Sandwich Board berisi pesan-pesan perdamaian dan menyebar di sekitar lokasi. 30 pemuda lainnya terlibat dalam pengisi acara di panggung yang merupakan pusat informasi serta tempat penyampaian pesan perdamaian melalui media seni: Musik, tari, komedi, sulap, dsb.

Sasaran Peserta

  1. 200 pemuda dari seluruh Yogyakarta.
  2. Jaringan Perempuan Yogyakarta
  3. Save Diversity
  4. Gusdurian
  5. Youth Interfaith Forum on Sexuality
  6. Kampung Halaman
  7. Komunitas Cemara
  8. Komunitas Jendela
  9. AFS
  10. Forum Indonesia Muda (FIM)
  11. PMII
  12. PMKRI
  13. GMKI
  14. Komunitas Pelangi Yogyakarta
  15. Yogyakarta untuk Kebhinekaan (YUK!)
  16. Young Peacemaker Yogyakarta
  17. Global Changemaker
  18. ClubSPEAK (Suara Pemuda Anti Korupsi)
  19. Dan lain-lain

Susunan & Sketsa Acara (Klik)

Susunan Panitia & Profil Penyelenggara (Klik)

Rancangan Anggaran (Klik)

Participant & Fasilitas

Kegiatan ini terbuka untuk semua, baik pemuda maupun masyarakat umum. Gratisss. Bagi kamu yang ingin berpartisipasi harus mendaftarkan diri terlebih dahulu. Karena setiap peserta yang terdaftar akan mendapatkan fasilitas berupa kaos sesuai dengan warna pelangi. Karena kaos yang panitia siapkan terbatas hanya untuk 150 pendaftar pertama, kamu yang mempunyai kaos atau baju dengan komposisi warna pelangi, misalnya boleh merah, jingga, kuning dll, sangat ditunggu partisipasinya. Untuk pendaftaran peserta silahkan SMS nomor 08529 1070 873 (Pisgen) dengan format: NAMA LENGKAP_EMAIL_FACEBOOK_TWITTER (jika ada)_UKURAN KAOS (M,L,XL).

Donasi & Sponsorship

Kami mengundang Anda untuk bergabung dan memberikan dukungan pada gerakan “Rainbow for Peace” melalui sistem donasi dan sponsorship. Donasi adalah ruang bagi individu yang ingin memberikan dukungan berupa dana. Nilai dukungan tidak dibatasi, dan akan kami laporkan secara berkala (3 hari sekali) melalui media sosial. Berbeda dengan donasi, Sponsorshipmerupakan ruang bagi para pemilik usaha serta instansi yang juga ingin memberikan dukungannya dengan nilai-nilai serta kontraprestasi tertentu yang disepakati. (keterangan lebih detail tentang donasi dan sponsorship dapat dilihat di lembar selanjutnya, Klik di Sini)

Untuk informasi lebih lanjut tentang Donasi dan Sponsorship ini, Anda bisa menghubungi Ofirisha Utami di 0838 677 22111 atau peacegeneration.jogja@gmail.com.

Kontak

Pertanyaan dan kontak lebih lanjut silahkan SMS ke nomor HP 085729331889 (Utha), email: peacegeneration.jogja@gmail.com.

Memulai Pisspot di Hari Kartini

Bala pasukan Peace Generation Saat Pisspot

Hari Sabtu, tanggal 21 April 2012 kemaren anak-anak Peace Generation (Pisgen) Yogyakarta mengadakan acara Pisspot (Peace on the Spot), dengan tagline Ayo Jadi Generasi Damai, bertempat di Nol Kilometer, depan Gedung Agung Yogyakarta. Dengan spirit/momentum Hari Kartini anak-anak Pisgen mendemonstrasikan pesan dan lagu-lagu perdamaian kepada masyarakat pengguna jalan atau mereka yang sedang menikmati weekend di pelataran Nol Kilometer. Memoentum Hari Kartini dan public spot, tempat keramaian, menjadi sasaran kegiatan Pisspot pertama Peace Generation.

Pisspot adalah kegiatan Peace Generation dengan membawakan pesan-pesan perdamaian ke tempat-tempat umum (public sphere) di daerah Yogyakarta. Kali ini, Zero Kilometer menjadi sasaran anak-anak Pisgen untuk bermain, ber-sandwich board (peace human poster), berdansa, bernyanyi, membagikan stiker dengan pesan perdamaian, dan mengajak orang-orang di sekitar tempat itu untuk mengobrol tentang perdamaian Indonesia dan berbagi testimoni untuk perdamaian Indonesia Testinomi dari mereka akan dipublikasikan dalam website ini juga.

Sebelum melakukan aksinya, anak-anak Pisgen mengadakan pengordinasian terlebih dahulu baik lewat SMS, FB, Tweeter, BBM maupun kumpul-kumpul bareng di Mato Kopi, dan juga di kos Mas Nurul (Bayi Buaya) buat persiapan gladi bersih sehari sebelum kegiatan. Dengan semangat anak-anak melakukan konsolidasi bersama walau terkadang agak males juga karena ngantuk dan sebagainya tapi untunglah semangat bermain dan berkarya untuk perdamiaan—sekecil apapun dari anak-anak Pisgen—akhirnya acara ini dapat diselenggarakan dengan sangat baik.

Tanggal 21 April, pukul 15.00 WIB para pasukan Pisgen berkumpul di kos Mas Nurul karena amunisi yang akan digunakan untuk beraksi terpusat di situ. Satu persatu pasukan berkumpul dengan membawa harapan dapat berhasil dalam melakukan aksinya. Satu, dua, tiga dan seterusnya mulai berdatangan. Akhirnya pada sekitar jam setengah 4 kita bersepakat untuk berangkat karena nanti sebagian pasukan Pisgen akan langsung menuju TKP di Nol Kilometer.

Amunisi yang dibawa pun agak merepotkan juga ternyata. Kami harus membawa poster-poster di tubuh kami. Lucu juga karena banyak kampanye kami sebenarnya dimulai sejak dari kos dengan memasang poster sambil naik notor “Pegel juga,” kata salah satu anggota yang membawa alat-alat tersebut. Tetapi tidak menjadi halangan, yang penting kami berangkat menuju medan laga.

Sesampainya di TKP ternyata memang benar, sebagaian pasukan sudah menunggu untuk melakukan aksi. Kelihatannya sudah siap jasmani dan rohani. Sudah tinggal diberi komando saja untuk menyuarakan perdamaian kepada masyarakat yang sudah bergumul di tempat tujuan para wisatawan itu.

Sebelum aksi, anak-anak Pisgen terlebih dahulu berkumpul melingkar untuk teknis aksi yang akan dilakukan. Seperti biasa anak-anak Pisgen ilent terlebih dahulu. Berdoa menurut kepercayaannya masing-masing. Semoga dapat berjalan lancar. Amin. Amunisi yang ada, yaitu sandwich board, stiker, pulpen, selebaran, dan kertas kosong untuk testimoni. O ya satu lagi kostum robot ala Pisgen plus gitar. Pembagian amunisi pun dimulai. Ada yang pakai kostum robot Pisgen, ada yang pakai sandwich board, ada yang hanya pegang stiker dan kertas testimoni dan selebaran tentang komunitas Peace Generation juga.

Aksi dimulai. Ada tim yang bertugas untuk menari di depan orang-orang ketika lampu merah menyala dengan diiringi live music dari duo gitaris yang cukup handal (Made dan Stanley). Ada yang bertugas membagi stiker dan selebaran kemudian ada juga yang menulis testimoni masyarakat mengenai perdamaian. Ada juga yang mulai jeprat-jepret untuk pendokumentasian aksi tersebut dan ada juga yang berdiri di tepi jalan untuk mengucapkan “Selamat Hari Kartini”.
Ternyata harus ada perjuangan yang lebih untuk menumbuhkan semangat biar tida krik-krik. Dengan datangnya satu per satu pasukan pisgen untuk ikut bergabung melakukan aksi, pada saat itu juga kami mulai menemukan jalan untuk bersemangat terus dan menransferkan nilai dan semangat damai kepada masyarakat.

Syukur, kami mampu tampil dengan maksimal dan fun sambil tersenyum ramai-ramai dan lebih bersemangat dan tentunya lebih rame karena ternyata banyak orang orang di luar pasukan Pisgen yang ikut menjadi bagian dalam aksi Pisspot. Bahkan anak-anak yang lagi jalan-jalan di situ ikut nyanyi-nyanyi di depan orang-orang yang lagi nunggu lampu merah. Sembari menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini anak-anak menari sekenanya dengan modelnya sendiri-sendiri. Ada yang cuma berdiri, ada yang sambil berjoget.

Kemesraan di sore itu membuat orang-orang yang melihatnya tertarik dan ada yang ketawa-tawa juga. Kami pun senang melihat respon dari masyarakat, berarti apa yang kami sampaikan mengena pada mereka. Minimal tarian, pesan poster dan stiker yang kami bawakan menusuk dalam memori mereka.

Matahari pun semakin tenggelam di peraduannya, hari semakin sore dan sebentar lagi maghrib akan datang. Anak-anak Pisgen pun mulai capek dan satu persatu mulai mundur ke belakang untuk istirahat. Namun sebagian anggota masih semangat bernyanyi riang gembira menghadap ke utara, bertatap muka dengan orang-orang yang barusan melewati jalan Malioboro.

Sekitar pukul 17.45 WIB aksi pun disudahi dengan diawali komando untuk berkumpul terlebih dahulu sebelum membubarkan diri. Duduk bersama sambil melingkar dan melakukan evaluasi dan cuap-cuap terima kasih lalu silent untuk kekompakan Pisgen bersama Pisspot.

Terima kasih pada teman-teman yang udah ikut aksi Pisspot, terima kasih pada teman-teman yang udah ikut mendukung aksi ini baik dengan kritik, saran maupun doanya. Terima kasih jua kepada masyarakat yang udah melihat aksi kami dengan ketulusan hati, dan kepada mereka yang juga ikut berpartisipasi dalam aksi kami. Terima kasih kepada Pak Polisi yang sudah mengatur lalu lintas, terima kasih buat semuanya. Yeeee…

Sampai jumpa kawan. See you next time di Pisspot berikutnya. Semoga bermanfaat buat semua. Salam Perdamaiaan (Uji, Cucu Buaya).

Berbagi Kado Ultah Peace Generation

Anggota Peace Generation Membagikan Kado

Selasa, 12 Juli 2011 adalah hari bagi-bagi kado, berbagi kesenangan bersama untuk anak jalanan (anjal) yang dilakukan oleh komunitas Peace Generation (Pisgen) Yogyakarta. Siang itu sekitar pukul 14. 05 WIB, Pisgeners (Buaya Kecil, Bayi Buaya, Bungkus Buaya, dan Buaya Aggkat) yang berjumlah 9 orang berkumpul di Boulevard UGM untuk membagikan kado-kado ulang tahun Pisgen ke-9 yang dirayakan pada 10 Juni 2011. Kado-kado ultah tersebut telah disepakati agar dibagikan ke anak-anak jalanan di kota Yogyakarta dan sekitarnya. “Kado-kado ini untuk anak jalanan agar kita sama-sama berbagi kebahagiaan dengan anak-anak jalanan,” begitu keyakinan kami bersama.

Siang di musim panas begini memang bukan waktu yang tepat untuk jalan-jalan mengelilingi kota Yogyakarta yang mulai disesaki oleh kendaraan mobil dan motor, dengan polusi udara yang mulai membuncah di kota ini. Laiknya kota-kota besar di Indonesia, panas dan gerah karena tekanan polusi yang terus meningkat adalah hukum wajib yang harus ditanggung oleh penduduk kota, setidaknya dapat dirasakan jika berjalan di siang bolong seperti ini.

Tapi itu bukan masalah bagi kami. Semangat berbagi kepada anak jalanan adalah spirit dan virtue yang mengalahkan semuanya. Apalagi anak jalanan, di negeri ini, selalu menjadi pihak-pihak yang disingkirkan secara sistematis, diciduk dan dibuang tanpa ada perhitungan humanis, tanpa ada rancangan dan respon serius jangka panjang untuk menyelamatkan dan memberdayakan mereka yang telah menjadi pihak kalah dan tersingkirkan. Membuang atau memutihkan anjal dari jalanan, seperti biasa dilakukan oleh pemerintah sejak dahulu, ternyata tidak pernah membuahkan hasil apa-apa seiring kemiskinan dan pengangguran yang semakin meningkat. Terbukti, bersamaan dengan kemiskinan kota yang semakin menganga, dari hari ke hari mereka terus bermunculan dan menyandang predikat sebagai “anak jalanan”.

Di tengah terik matahari, kami masih sempat berdiskusi tentang bagaimana cara membagikan kado, juga titik-titik lokasi yang biasa dimangkali para anjal. Karena bentuk dan ukuran kado yang berbeda—kecil dan besar–kami mengantisipasi takut anjal memilah-milih kado yang akan kami berikan.

“Gimana kalau kita pakai games ‘bagi-bagi kado’ biar mereka tertib? Atau pake ‘hom-pim-pah’ aja…..”

“Mereka cari  duit eh, bukan mau nge-games!” Obrolan kami dibumbui tawa bersama, lalu selesai begitu saja tanpa ada keputusan soal cara bagi kado. Ya sudah, kami berangkat bersama-sama mengendarai motor.

Titik perama adalah perempatan MM UGM. Kami menemui 3 anak jalanan yang sedang berjualan koran dan mengamen. Di tengah kelebat asap hitam dari knalpot kenadaraan, air muka anak-anak itu tetap tegar, menebar senyum dan ucapan terima kasih kepada kami, meski dengan suara pelan dan tertahan. Mereka menanyakan apa isi kado yang tengah mereka rangkul erat di dada mereka. Kami yang sama-sama tidak tahu isinya tersenyum dan tetap meyakinkan bahwa kado-kado tersebut akan sangat bermanfaat bagi mereka karena memang sudah disiapkan sebagai hadiah yang dibutuhkan untuk anak jalanan. Jadi, gundukan kado yang terbungkus dari plastik, koran, dan kertas kado tersebut sudah menjadi porsi dan hadiah yang special buat mereka.

Kami meneruskan perjalanan ke perempatan-perempatan lampu merah yang biasa jadi tempat kerja para anjal. Ketika melewati perempatan Mirota Kampus, kami melihat sekitar lima anak dan remaja sekitar usia belasan tahun dengan alat-alat musik menggantung di tubuhnya. Kami memutuskan berhenti dan memarkir motor, dan membagikan kado-kado kepada mereka. Wajah sumbringah, girang, dan senang terlihat dari wajah mereka sembari menerima kado satu per satu. Tiba-tiba ada seorang anak yang lari memanggil temannya yang lagi tidur di balik tembok tepi jalan raya agar mereka sama-sama mendapatkan kado dari kami. Seorang anak di usia sekitar 8 tahun menghampiri kami dengan wajah kusut penuh kantuk, memasuki lingkaran kecil antara Pisgeners dan teman-teman anak jalanan. Lalu tanpa diminta, mereka mempersembahkan sebuah tembang lagu hasil gubahan mereka untuk kami. Birama mengalun tenang di tengah bising lorong di siang menjelang sore. Mereka mengakhiri lagu itu dan kami saling melambai tangan.

Perempatan Gramedia adalah salah satu titik yang sudah kami rencanakan. Seorang bocah perempuan, usai sekitar 8 tahun sedang duduk di tengah terik, menghadap ke jalan ramai dengan merangkul tumpukan koran di pangkuannya. Dari jauh anak ini tak terlihat atraktif dan mobile dengan mengitarkan koran kepada pengguna jalan. Ia hanya duduk, seperti menghayati sesuatu di pangkuannya. Benar. Ketika mendekat, kami jadi paham, ia sedang membaca koran di bawah lampu merah itu. Kami datang dengan sebungkus kado yang sudah siap, sebuah buku bacaan. Ia tersenyum lebar, menyunggingkan wajah manis di balik balutan keringat yang menjalar di sekujur rambutnya yang sebahu.

Hey little girl, keep on gearing by reading that book much and the experiences you face all days. Todays you are here, but tomorrow will speak different.

Kado-kado sudah dibagikan satu per satu untuk mereka, dan kami pun beranjak pergi. Namun semburat senyum yang tersurat pada wajah polosnya yang keras melawan matahari masih terasa melambai hingga kami benar-benar jarak pandang kami jauh, dan sosok mereka seperti ditelan deru mobil dan motor yang lalulalang.

Kado yang kami bawa belum habis semua karena hari itu anak-anak jalanan cukup sepi, dan bersih dari para gimbel, khususnya di area Malioboro. Kami tidak mengerti kenapa. Yang jelas, hari itu aktivitas bagi-bagi kado bersamaan dengan hari kunjungan Bapak Presiden SB ke Yogyakarta, 2 jam sebelumnya. Terima kash Tuhan untuk hari kami  berbagi.

Aksi Bersih Pantai

Anggota Komunitas Peace Generation Mengumpulkan Sampah

Pada tanggal 18 Januari 2009, Peace Generation melakukan “Aksi Bersih Pantai”. Aksi ini dilakukan di Pantai Parangtritis, salah satu pantai di selatan kota Jogjakarta. Kegiatan ini dilakukan untuk mengawali kegiatan tahun 2009 Peace Generation yang berhubungan dengan lingkungan. Tema besar kegiatan Peace Generation pada tahun 2009 adalah “Berdamai melalui lingkungan, lihat sekitar kita.”

Pada acara bersih pantai kali ini, para anggota Peace Generation berusaha mengumpulkan sampah plastik yang ada di sepanjang bibir pantai Parangtritis. Walaupun masih sangat banyak sampah yang belum bisa dibersihkan, namun kegiatan ini cukup dapat menarik perhatian para pengunjung pantai Parangtritis. Ada beberapa pengunjung yang merasa tergerak dan kemudian membantu aksi Peace Generation ini. Memang, selain untuk membantu membersihkan pantai secara langsung, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengetuk hati para pengunjung pantai agar mereka ikut menjaga keindahan lingkungan sekitar pantai.

Aksi “1000 Peasn Damai untuk Gaza”

Para Anggota Peace Generation

Pada tanggal 10 Januari 2009, Peace Generation mengadakan aksi damai untuk menyikapi perang yang sedang terjadi di Gaza. Aksi damai ini mengambil lokasi di sepanjang jalan Malioboro, tepat di jantung kota Jogjakarta. Aksi dilakukan dengan membagikan sticker perdamaian ke orang-orang yang sedang berada di seputaran Malioboro.

Selain membagikan sticker perdamaian, Peace Generation juga meminta orang-orang di seputaran Malioboro untuk menuliskan komentarnya tentang peristiwa yang sedang terjadi di Gaza. Hasil tulisan ini telah diserahkan ke Duta Besar Palestina untuk Indonesia ketika beliau berkunjung ke Universitas Gadjah Mada Jogjakarta.

Buku “Pelangi Damai di Sudut Jogja”

Sampul Buku Pelangi Damai di Sudut Jogja

Pada tanggal 29 Agustus 2008, Peace Generation melaunching buku pertama Peace Generation yang berjudul “Pelangi Damai di Sudut Jogja”. Buku ini mengisahkan perjalanan seorang mahasiswa yang ingin lebih mengenal kota Jogja dari sudut pandang perdamaian. Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan para peserta kegiatan Jogja Peace Amazing Race yang telah dilaksanakan pada bulan Januari 2008. Kegiatan launching bertempat di Kafe dJendelo, di lantai 2 Toko Buku Toga Mas, Jalan Affandi/Gejayan, Yogyakarta.

Launching ini menghadirkan Bapak Muhadi Sugiono dan Mami Vin. Saat launching, Mami Vin yang merupakan Manager di LSM Waria KEBAYA banyak menjelaskan tentang budaya solidaritas yang dianut oleh para anak asuhnya. Sedangkan Bapak Muhadi Sugiono yang juga menjabat Kepala di Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM melengkapi pembahasan dengan melihat budaya perdamaian di Jogja dari sudut pandang akademisi.

Komunitas Peace Generation

http://www.trulyjogja.com/index.php?action=news.detail&cat_id=9&news_id=149

Peace Generation

Banyaknya kekerasan yang terjadi di dunia saat ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Perang antar negara atau konflik kesukuan yang kerap terjadi membuat kita sadar pentingnya nilai-nilai ditanamkan perdamaian pada masyarakat. Cara berpikir yang sempit harus dibuka agar dapat mengerti betapa berartinya perdamaian itu.

Berawal dari adanya Youth Camp for Democratic and Peace (YCDP) yang diadakan oleh Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian bekerjasama dengan mahasiswa dari FISIPOL UGM pada tahun 2002, lahir suatu perkumpulan yang bernama Peace Generation.Peace Generation tepatnya berdiri pada tanggal 10 Juni 2002, dan seperti tujuan awal YCDP, mereka memiliki visi mewujudkan masyarakat yang lebih damai.

Visi inilah yang akhirnya membuat mereka mengadakan acara Student Camp for Peace (SCP) yang diikuti oleh berbagai Sekolah Menengah Umum dari beberapa kota serta menghadirkan tamu dari Thailand dan Australia. Perkumpulan ini tidak menutup kerjasama dengan pihak manapun, salah satunya adalah Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian, Universisitas Gadjah Mada.

Untuk keanggotaan dari perkumpulan ini pada awalnya terbatas pada mahasiswa UGM saja, namun dikarenakan adanya acara SCP yang diikuti dari berbagai siswa SMU membuat anggota dari Peace Generation ini terbuka. Jumlah anggota dari Peace Generation ini berkesar sekitar 40 orang yang aktif. Sedangkan untuk kepengurusan, di dalam Peace Generation dinamakanPerson in Charge (PIC) yang berjumlah 5 orang.

Peace Generation telah mengadakan beberapa kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi kekerasan, antara lain Student Camp for Student (2003),  Kampanye Anti Kekerasan dengan menyebar poster anti kekerasan, (2004), dan Peace Camp (2005). Biasanya di dalam acara-acara tersebut, terdapat kegiatan sharing dengan orang atau tamu yang merasakan langsung dampak kekerasan. Kegiatan ini bertujuan agar anggota lain dapat ikut merasakan dampak dari kekerasan itu serta mengetahui secara nyata keberadaan kekerasan ditengah-tengah kehidupan ini.

Untuk keterangan lebih lanjut dapat langsung datang ke Gedung Pusat UGM tiap hari Rabu, jam 16.00 atau dapat kontak di email mereka, justforourpeace@yahoo.com atau di mailist mereka, peacegeneration@yahoogroups.com.(dito)